Website Baru Kami, Klik Gambar

Website Baru Kami, Klik Gambar
Kajian Ilmu Agama Islam
Home » » III. Pengangkatan Sebagai Rasul [1]

III. Pengangkatan Sebagai Rasul [1]

A. PERMULAAN WAHYU
Aisyah berkata, "Wahyu yang pertama kali turun kepada Rasulullah adalah mimpi yang baik dan benar dalam tidur. Beliau tidak bermimpi melainkan datang seperti sinar pagi (subuh). Setelah itu beliau suka menyendiri. Kemudian beliau menyendiri di gua Hira', di sanalah beliau menyepi. Jibril mendanginya saat beliau sedang menyendiri di gua Hira' itu. Kemudian berkata, 'Bacalah!!' Maka, beliau menjawab, 'Saya tidak bisa membaca!' Kemudian Jibril mengulangiya dan dia mengatakan pada ketiga kalinya,
'Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmu-lah Yang Maha Pemurah.' (al-'Alaq: 1-3)

Kemudian Rasulullah pulang menemui Khadijah dengan cepat sedang hatinya tergoncang. Beliau berkata, 'Selimutilah aku, selimutilah aku!' Khadijah menenangkan Rasulullah dan menegaskan bahwa Tuhan tidak akan menghinakannya karena beliau memiliki akhlak yang mulia.
Kemudian dia membawa Nabi pergi kepada sepupunya yang bernama Waraqah bin Naufal. Waraqah sendiri adalah seorang pemeluk Nasrani pada masa Jahiliyah. Lalu, keduanya mengabarkan apa yang terjadi. Maka, Waraqah pun berkata, 'Itu adalah malaikat yang pernah Allah turunkan kepada Musa. Andaikata aku masih hidup tatkala kaummu mengusirmu!' Itu terjadi pada tanggal 13 Ramadhan.
Kemudian wahyu terputus selama empat puluh hari. Maka, Rasulullah sedih atas kejadian ini. Maka, Jibril datang kembali kepadanya dan duduk di atas kursi di antara langit dan bumi dalam rupanya yang asli. Kemudian beliau kembali datang menemui Khadijah dengan berkata, "Selimutilah Aku, selimutilah aku!" Maka, Allah menurunkan wahyuNya,
"Hai orang yang berselimut. Bangunlah, lalu berilah peringatan." (al-Muddatstsir: 1-2)

Setelah itu wahyu turun secara berangsur-angsur.

Total Pengunjung

Powered by Blogger.

Pencarian