Website Baru Kami, Klik Gambar

Website Baru Kami, Klik Gambar
Kajian Ilmu Agama Islam

Renungan Untuk Warga Jakarta

Suatu hari seorang raja mengumpulkan seluruh rakyatnya. Kemudian ia sodorkan kepada mereka sebuah gelas yang terbuat dari berlian sembari berkata, "Bahkan jika kalian semua mengumpulkan harta untuk membeli gelas berlian ini, kalian tidak akan pernah bisa membelinya. Ini adalah benda termahal seantero negeri."
Semua menatap kagum. Betapa mahal dan indah gelas yang ada di hadapan mereka.
Sang raja melanjutkan, "Wahai rakyatku, siapa diantara kalian yang bersedia untuk memecahkan gelas ini?"
Terkaget-kaget mereka mendengarnya. "Duhai Baginda Raja, bagaimana mungkin kami tega memecahkan benda termahal seantero negeri?" Kata salah seorang dari menteri kerajaan. Yang lain menganguk setuju.
"Benar, wahai raja, bukankah itu pusaka negeri ini? Kami sekali-kali tak akan tega merusaknya." Sahut yang lainnya.
Suasana berubah gaduh, masing-masing berbisik kepada teman di sampingnya.
Tak berselang lama, seorang pemuda muncul dari kerumunan. Ia berjalan tenang, memberi hormat kepada raja, lantas tanpa berbicara apa-apa, ia langsung ayunkan kapak di genggamannya. Maka seketika gelas berlian itu pecah berkeping-keping.
Seketika itu pula orang-orang berteriak memaki-maki, mereka benar-benar marah. Hampir-hampir mereka akan mengeroyokinya jika saja raja tak segera menenangkan mereka.
"Wahai rakyatku, mari dengar dulu alasan kenapa pemuda ini berani memecahkan gelas berlian itu?" Ujar sang raja.
"Wahai rajaku," Kata si pemuda. "Gelas berlian ini memang sangat mahal dan sangat penting, tapi perintahmu untuk memecahkannya jauh lebih mahal dan lebih penting dari apapun."
Sang Raja tersenyum. Betapa bijaknya pemikiran si pemuda.
***
Sebentar lagi kita akan mengikuti pemilu gubernur DKI Jakarta, yang ingin saya katakan adalah...
Jikalaupun gubernur yang sekarang tidak korupsi, dermawan tiada terkira, banyak membawa perubahan. Saya tetap tidak akan memilihnya besok lusa. Kenapa? Karena boleh jadi dia itu memang penting bagi Jakarta tapi ketahuilah perintah Allah untuk tidak memilih pemimpin kafir jauh lebih penting.
Allah berfirman, "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi WALI (PEMIMPIN / PELINDUNG) dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu) ?" (An-Nisa' 144)

Mari belajar dari si pemuda, belajar meletakkan perintah Allah diatas segala-galanya. Karena hanya dengan begitu kita akan tumbuh menjadi mukmin sejati. Sebarkan utk org dki yg mau berfikir & berpegang kepada AlQuran dan Hadis..!

Sumber : Brodcast dari WhatsApp

Surga Pria ada pada Ibunya, sedangkan Surga Wanita ada pada Suaminya

Saudara dan saudariku, Allah itu maha adil dan bijaksana tiada pun yang terjadi di dunia ini melainka akan terjadi dengan keadilan dan kebijaksanaan Allah.
Kita hidup di dunia ini hanya sementara, dan akhirat-lah yang nantinya akan menjadi tempat kembali kita untuk selama-lamanya. Tapi, yang menjadi pertanyaan apakah di akhirat kelak masuk surga dan merasakan kenikmatan yang tiada bandingannya? Atau kita masuk neraka dan merasakan siksaan yang amat sangat pedihnya ? Kita meyakini, bahwa memang setiap orang yang beriman meskipun berdosa pasti akan masuk surga, meskipun mampir dulu ke neraka.
Terus yang menjadi pertanyaan, bagaimana seorang yang beriman masuk surga tanpa mampir dulu ke neraka. Jawabannya ada dua :
Pertama,untuk kaum adam (pria) yang ingin masuk surga adalah dengan berbakti kepada kedua orangtuanya terutama kepada ibunya, hal ini sebagaimana diriwayatkan dari Muawiyah bin Jahimah As-Salami bahwasanya ia pernah datang menemui Nabi lalu berkata, “Wahai Rasulullah, aku ingin pergi berjihad, dan aku datang kepadamu untuk meminta pendapat.” Beliau berkata, “Apa kau masih mempunyai Ibu?” Ia menjawab, “Ya, Masih.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  bersabda,
فألزمها فإن الجنة تحت رجليها
“Hendaklah engkau tetap berbakti kepadanya, karena sesungguhnya surga itu dibawah kedua kakinya.” (Riwayat an-Nasa’i)
Di dalam hadits ini kita lihat, ketika ada seorang sahabat Rasulullah izin untuk pergi berjihad, tapi rasulullah malah menanyakan apa ia masih memiliki ibu atau tidak. Jika masih, maka ia lebih baik izin terlebih dahulu kepada ibunya untuk pergi berjihad. Kita ketahui, bahwasanya jihad itu wajib hukumnya, jika mati ketika jihad maka syahid dan surga menantinya. Akan tetapi disini, rasulullah menjelaskan bahwasanya berbakti kepada ibunya lebih mulia daripada berjihad di medan perang.
Kedua, untuk kaum hawa (wanita) yang ingin masuk surga adalah dengan taat dan patuh kepada suaminya, hal ini sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  bersabda,
أيما امرأة ماتت وزوجها راض دخلت الجنة
“Wanita mana saja yang meninggal dunia dan suaminya dalam keadaan ridho padanya, maka ia pasti masuk surga.” (Riwayat Tirmidzi dan Ibnu Majah)
Dalam hadits ini Rasulullah menjelaskan bahwasanya keridhoan suami itu dapat menyebabkan seorang istri masuk surga, bagaimana menjadi istri yang mendapatkan ridho suami, yaitu istri yang senantiasa patuh dan taat terhadap suaminya dalam hal yang diperbolehkan dalam syariat. Jadi andaikata ada seorang suami yang melarang istrinya untuk bertemu dengan orangtua istrinya karena suami memiliki hajat terhadapnya, maka ia tidak boleh bertemu orangtuanya.. (pembahasan ini akan kami ulas lebih jauh dalam artikel selanjutnya) insya Allah.

Ajaran Disesatin, tapi Shalat Ngikutin ???

Pada artikel sebelum ini, yaitu tentang qunut kami telah menerangkan secara ringkas mengenai pandangan para ulama mengenai qunut shubuh. Sedangkan pada tulisan kali ini, penulis ingin menyampaikan sebuah unek-unek penulis, dari hasil penelitian harian dari kebiasaan orang-orang di lingkungan sekitar penulis.
Banyak sekali umat islam di zaman sekarang ini, baru baca artikel dari google sesaat sudah berani sebut orang lain sesat, baru belajar ngaji udah berani mengkaji. Kita kembali ke pembahasan kita, ini pembahasan masih nyambung sama qunut shubuh yang udah kita bahas sebelumnya.
Anda mau ngikutin pendapat bahwa qunut shubuh itu ada, silahkan. Anda mau ngikutin pendapat yang tidak ada, juga silahkan. Tapi, kalau andaikata anda mengikuti pendapat yang tidak qunut, sebaiknya jangan sekali-kali anda shalat di tempat yang tidak qunut, mengapa? Karena shalat berjamaah anda tidak sah, kalaupun sah anda pasti mendapatkan dosa, tapi ini berlaku buat orang-orang yang mengikuti pendapat tidak qunut, kemudian dia shalat berjamaah di belakang imam yang berqunut dan dia sebagai makmum tidak mau qunut. (kalau belum mengerti baca berulang-ulang).
Kenapa kami berani bilang shalatnya gak bakal sah atau dapat dosa ?
Karena, ketika imam berqunur dan makmumnya tidak berqunut. Maka, dapat diketahui bahwa makmum ini adalah orang awam yang bodoh dan tidak memiliki ilmu tapi dia gak nyadar (baca: Toleransi para Ulama dalam Qunut Shubuh). Dan sebagimana dijelaskan di dalam matan zubad,
العمل بلا علم مردودة لا تقبل
Amal perbuatan tanpa didasari ilmu tertolak tidak diterima (oleh Allah).
Terus ada yang merasa pintar, pasti dia ngomong begini. Qunut dalam shalat shubuh itu tidak ada contohnya dari Rasulullah, karena tidak ada hadits shahihnya. Sedangkan setiap yang tidak dicontohkan adalah Bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat, maka tidak usah mengikuti qunut shubuh. Orang jawabannya demikian biasa orang pinter karena rajin baca, tapi masih lebih banyak bodohnya. Kalau udah tau sesat imam yang qunut shubuh, ngapain jadi makmumnya, karena orang sesat itu pasti shalatnya tidak akan diterima toh. Lagipula kalau qunut itu bid’ah dan bid’ah sesat, maka sesat itu kan perbuatan syetan, nah sedangkan syetan itu kan tidak boleh diikuti apalagi menjadi makmumnya, Allah berfirman :
يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الأرْضِ حَلالا طَيِّبًا وَلا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan; karena sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagimu.   

Antara Iman dan Islam

Sering sekali kita mendengar kata Iman dan Islam, apakah itu dua hal yang sama ? ataukah dua hal yang berlainan ? kami akan coba memakarkan secara singkat dan lain dari yang lain. Insya Allah..
Iman berasal dari bahasa arab yang artinya percaya, Iman berbeda dengan yakin. Karena keyakinan itu baru hadir ketika kita memiliki kepercayaan akan suatu hal yang kemudian kita buktikan sendiri. Contoh mudahnya begini, ada seorang wanita yang dicintai oleh seorang pria playboy, si wanita ini pasti percaya bahwa pria ini mencintainya akan tetapi disisi lain ia belum yakin apakah pria itu masih playboy atau tidak. Sedangkan Iman menurut makna syariat adalah pernyataan dengan perkataan, pembenaran dengan hati dan pembuktian dengan amal perbuatan, hal ini sebagaimana telah kami sebut dalam artikel yang berjudul shalat.
Sedangkan Islam berasal dari bahasa arab yang artinya berserah diri atau pasrah atau selamat. Oleh karena itu orang yang beragama Islam adalah orang yang berserah diri kepada Tuhannya, pasrah dengan kehendak dan ketentuan-Nya, yang  nantinya Insya Allah ia akan selamat dari siksaan-Nya.
Dari dua pengertian diatas kita dapat menemukan suatu pemahaman bahwasanya Iman dan Islam tidak dapat dipisahkan. Karena, iman tanpa islam adalah sebuah kekafiran, sedangkan islam tanpa iman adalah sebuah kemunafikan. Jadi, kalau ada seorang manusia ia mengaku Iman kepada Allah akan tetapi ia menolak untuk menyembahnya (seperti syahadat, shalat dll) maka bisa dipastikan ia adalah seorang yang Kafir. Sedangkan, kalau ada seorang manusia ia rajin menyembah Allah (shalat, puasa dll) akan tetapi di dalam hatinya ia menyakini bahwasanya Allah tidak memiliki kuasa, atau dihatinya ia meragukan kekuasaan Allah, maka bisa dipastikan ia adalah seorang yang munafik.
Mengenai apa itu Iman dan Islam, serta rukun-rukunnya, cukuplah kita baca dan pahami sebagaimana hadits yang diriwayatkan dari Umar bin Khattab yang berkata,
بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوْسٌ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيْدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ شَدِيْدُ سَوَادِ الشَّعْرِ، لاَ يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ، وَلاَ يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ، حَتَّى جَلَسَ إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ وَقَالَ: يَا مُحَمَّد أَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِسْلاَمِ، فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : اْلإِسِلاَمُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ وَتُقِيْمَ الصَّلاَةَ وَتُؤْتِيَ الزَّكاَةَ وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ   وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنِ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيْلاً قَالَ : صَدَقْتَ، فَعَجِبْنَا لَهُ يَسْأَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ، قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِيْمَانِ قَالَ : أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ. قَالَ صَدَقْتَ، قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِحْسَانِ، قَالَ: أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ . قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ السَّاعَةِ، قَالَ: مَا الْمَسْؤُوْلُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ. قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنْ أَمَارَاتِهَا، قَالَ أَنْ تَلِدَ اْلأَمَةُ رَبَّتَهَا وَأَنْ تَرَى الْحُفَاةَ الْعُرَاةَ الْعَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُوْنَ فِي الْبُنْيَانِ، ثُمَّ انْطَلَقَ فَلَبِثْتُ مَلِيًّا، ثُمَّ قَالَ : يَا عُمَرَ أَتَدْرِي مَنِ السَّائِلِ ؟ قُلْتُ : اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَعْلَمَ . قَالَ فَإِنَّهُ جِبْرِيْلُ أَتـَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِيْنَكُمْ
Dari Umar radhiallahuanhu juga dia berkata : Ketika kami duduk-duduk disisi Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam suatu hari tiba-tiba datanglah seorang laki-laki yang mengenakan baju yang sangat putih dan berambut sangat hitam, tidak tampak padanya bekas-bekas perjalanan jauh dan tidak ada seorangpun diantara kami yang mengenalnya. Hingga kemudian dia duduk dihadapan Nabi lalu menempelkan kedua lututnya kepada kepada lututnya (Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam) seraya berkata: “ Ya Muhammad, beritahukan aku tentang Islam ?”, maka bersabdalah Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam : “ Islam adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada Ilah (Tuhan yang disembah) selain Allah, dan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah, engkau mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan pergi haji jika mampu “, kemudian dia berkata: “ anda benar “. Kami semua heran, dia yang bertanya dia pula yang  membenarkan. Kemudian dia bertanya lagi: “ Beritahukan aku tentang Iman “. Lalu beliau bersabda: “ Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhir dan engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk “, kemudian dia berkata: “ anda benar“.  Kemudian dia berkata lagi: “ Beritahukan aku tentang ihsan “. Lalu beliau bersabda: “ Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatnya, jika engkau tidak melihatnya maka Dia melihat engkau” . Kemudian dia berkata: “ Beritahukan aku tentang hari kiamat (kapan kejadiannya)”. Beliau bersabda: “ Yang ditanya tidak lebih tahu dari yang bertanya “. Dia berkata:  “ Beritahukan aku tentang tanda-tandanya “, beliau bersabda:  “ Jika seorang hamba melahirkan tuannya dan jika engkau melihat seorang bertelanjang kaki dan dada, miskin dan penggembala domba, (kemudian)  berlomba-lomba meninggikan bangunannya “, kemudian orang itu berlalu dan aku berdiam sebentar. Kemudian beliau (Rasulullah) bertanya: “ Tahukah engkau siapa yang bertanya ?”. aku berkata: “ Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui “. Beliau bersabda: “ Dia adalah Jibril yang datang kepada kalian (bermaksud) mengajarkan agama kalian “.
(Riwayat Imam Muslim)
Dalam hadits tersebut Rasulullah membagi Islam itu menjadi Lima :
  1. Syahadat
  2. Shalat
  3. Zakat
  4. Puasa di bulan Ramadhan
  5. Haji bila mampu
Sedangkan membagi Iman itu menjadi Enam :
  1. Iman kepada Allah
  2. Iman kepada Malaikat
  3. Iman kepada Nabi dan Rasul
  4. Iman kepada Kitab
  5. Iman kepada Hari Kiamat
  6. Iman kepada Qadha dan Qadar
Dan di dalam hadits ini Rasulullah menjelaskan juga tentang Ihsan, yaitu puncak tertinggi dari Islam dan Iman seseorang. Mengenai pembahasannya akan kami buat pada artikel tersendiri. Insya Allah.

Wallahu ‘alam

Islam Berjaya karena Mengikuti Ajaran Agamanya, sedangkan Kafir Berjaya karena Meninggalkan Ajaran Agamanya

Kenalkah anda dengan Ibnu Rusyd sang ahli filsafat dari negeri Andalusia ?
Kenalkah anda dengan Ibnu Sina sang ahli ilmu kedokteran dari Persia ?
Kenalkah anda dengan Ibnu Batutah sang ahli sejarah dunia dari Maroko ?
Kenalkah anda dengan Al-Khawarizmi sang ahli matematika dari Persia ?
Kenalkah anda dengan Al-Battani sang ahli astronomi dari Arab ?
Mereka semua adalah para ilmuan yang beragama Islam, yang taat kepada Agamanya, dikenal sebagai orang yang shaleh, hafal Al-Qur’an dan menggali ilmu darinya. Dan itulah mengapa sebabnya ilmu mereka bermanfaat hingga kini.
Berbeda dengan ilmuan-ilmuan kafir seperti Albert Einstein, Charles Darwin, Alexander Graham Bell, Plato, Aristoteles hingga Bill Gate sang empunya dan pemilik microsoft, mereka adalah orang-orang kafir (kristen dan yahudi) yang dikenal tidak taat pada ajaran agama, bahkan sebagian diantara mereka terkenal sebagai tokoh yang mengemukakan pendapat bahwasanya agama itu tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan dunia.
Mengapa demikian ? karena ilmuan Islam tatkala menggali ajaran agamanya membaca Al-Qur’an maka ia akan mendapatkan pengetahuan baru yang tidak pernah diketahui manusia sebelumnya (pembahasannya pada artikel bertajuk keajaiban al-qur’an). Sedangkan ilmuan Kafir tatkala ia ingin menggali ajaran agamanya, justru ia akan terpuruk dalam lembah keterpurukan. Dimana hal ini pernah dialami oleh Bangsa Eropa pada Era Kegelapan tatkala ia lebih memilih mengikuti Ajaran Agamanya yang diseru gereja dan menjauhi para ilmuan.
Semua ini karena Ajaran Islam yang bersumber dari Al-Qur’an itu adalah wahyu dari Allah sang pencipta kehidupan ini. Sedangkan ajaran Kafir yang bersumber dari Kitab-kitab mereka adalah buatan manusia yang tak memiliki pengetahuan akan kehidupan dunia ini.
Wallahu’alam.

Tafsir Surah Al-'Ankabut Ayat 45 (Shalat Terus, Maksiat Mulus)

Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ
“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar.” (QS. Al ‘Ankabut: 45).
Sebuah ayat yang kami kutip di atas adalah ayat yang bisa dikatakan hampir semua orang Islam pasti mengetahui ayat tersebut. Akan tetapi sebagian besar umat Islam juga bertanya-tanya apa sebenarnya yang dikandung di dalam ayat tersebut. Karena masyarakat sekarang banyak melihat fenomena bahwasanya banyak orang yang shalat akan tetapi maksiat. Sebenarnya fenomena ini sebenarnya bukanlah fenomena yang baru, akan tetapi sejak zaman Rasulullah sebagaimana yang diriwayatkan dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa ada seseorang yang pernah mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia mengatakan,
جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِّي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: إِنَّ فُلاَنًا يُصَلِّيْ بِاللَّيْلِ فَإِذَا أَصْبَحَ سَرِقَ؟ فَقَالَ: “إِنَّهُ سَيَنْهَاهُ مَا يَقُوْلُ
“Ada seseorang yang pernah mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia berkata, “Ada seseorang yang biasa shalat di malam hari namun di pagi hari ia mencuri. Bagaimana seperti itu?” Beliau lantas berkata, “Shalat tersebut akan mencegah apa yang ia katakan.” (HR. Ahmad 2: 447, sanadnya shahih kata Syaikh Syu’aib Al Arnauth).
Dari hadits tersebut dapat diketahui bahwasanya orang rajin shalat tapi maksiat (mencuri) jalan terus sudah ada sejak zaman Rasulullah.
Banyak para ulama telah menerangkan mengapa banyak orang yang seperti ini, yaitu karena orang tersebut belum mendirikan shalat dengan baik, rukun dan syarat serta kekhusyu’annya belum baik dan lain sebagainya menurut penjelasan para ulama.
Sebenarnya penjelasannya tidak perlu serumit dan sepanjang itu, cukup baca menurut redaksi ayat dan kemudian pahami maka kita dapat ketemukan makna yang sesungguhnya :
إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ
“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar.” (QS. Al ‘Ankabut: 45).
Menurut terjemahan umum diatas adalah demikian adanya. Tapi coba perhatikan lafaz تَنْهَىpada ayat ini, jika kita mempelajari bahasa arab, maka kita mengetahui bahwasanya تَنْهَىmerupakan fi’il (kata kerja) dari kata الصَّلَاةَdalam bentuk fiil mudhari yaitu kata kerja yang digunakan untuk menunjukkan keterangan waktu sekarang dan masa yang akan datang.
Jadi sebenarnya dan seharusnya arti dari terjemahan ayat diatas adalah, “Sesungguhnya saat sedang shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” Dan jika terjemahan serta maknanya seperti ini, maka benarlah firman Allah karena orang yang sedang shalat itu tiadalah mungkin ia melakukan keji dan mungkar, contoh mudahnya orang yang sedang shalat tiadalah mungkin mempunyai sifat pendusta serta tidak mungkin ia korupsi, mengapa ? coba anda perhatikan pernahkan ada orang shalat dalam keadaan sendiri atau berjamaah ia mengurangi jumlah rakaat shalat atau melebihkannya ?
Mungkin ketika kami memberikan makna tersebut, banyak diantara kita terbesit, ‘wah kalau begitu saat sedang shalat saja dong gak maksiatnya?’ maka kami akan katakan, ‘ya’. Karena orang yang sedang dalam keadaan shalat tiadalah mungkin ia bermaksiat. Dan oleh sebab itu maka sebaiknya kita harus shalat sepanjang waktu.
Pasti akan timbul pertanyaan lagi, shalat sepanjang waktu? Shalat kan ada waktu-waktunya ? betul, tapi itu adalah shalat dalam makna khusus. Sedangkan shalat dalam ayat ini adalah shalat bermakna umum, sebagaimana telah dijelaskan oleh para ulama, shalat itu artinya adalah doa, dan doa artinya adalah dzikir, sedangkan dzikir itu adalah mengingat Allah. Nah bukannya dzikir itu bisa sepanjang waktu?
Jadi kesimpulannya ayat ini menerangkan, “Orang yang senantiasa dalam keadaan mengingat Allah pastilah tidak mungkin ia melakukan perbuatan keji dan mungkar, karena ia mengetahui bahwasanya Allah selalu mengawasinya.”
Wallahu’alam

Total Pengunjung

Powered by Blogger.

Pencarian